Peningkatan Mutu Pendidikan: Literasi dan Menulis sebagai Jalan Pengabdian Akademik
Dalam beberapa tahun terakhir, kita kerap berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan. Istilah ini hadir dalam berbagai rapat, dokumen perencanaan, hingga laporan kinerja. Namun dalam praktiknya, mutu pendidikan tidak selalu tumbuh dari program besar atau kebijakan yang rumit. Di lapangan, mutu justru sering berangkat dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Salah satunya adalah budaya membaca dan menulis di lingkungan kampus.
Sebagai bagian dari pengelolaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, saya melihat secara langsung bahwa banyak kegiatan dosen dan mahasiswa yang sesungguhnya sangat bernilai. Mereka turun ke lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, menemukan persoalan nyata, dan berusaha menawarkan solusi. Proses ini kaya akan pembelajaran. Sayangnya, tidak semua pengalaman tersebut kemudian dituliskan dan dibagikan secara lebih luas. Padahal, ketika pengalaman itu terdokumentasi dengan baik, dampaknya bisa melampaui ruang dan waktu pelaksanaannya. Menulis bukan semata urusan laporan atau kewajiban administratif. Menulis adalah cara merawat pengetahuan. Melalui tulisan, gagasan tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu tempat, tetapi dapat dibaca, dipelajari, bahkan dikembangkan oleh orang lain. Di sinilah kerja akademik menemukan maknanya yang lebih panjang.
Pengalaman di kampus juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih siap dalam proses belajar. Mereka lebih terlatih menyusun argumen, lebih berani mengemukakan pendapat, dan lebih reflektif ketika terlibat dalam penelitian maupun pengabdian. Sebaliknya, mahasiswa yang jarang bersentuhan dengan bacaan dan tulisan sering kali kesulitan menuangkan gagasan, meskipun sebenarnya memiliki pengalaman yang tidak sedikit.
Peran dosen dalam membangun budaya ini sangat penting. Dosen bukan hanya menyampaikan materi di kelas, tetapi juga memberi contoh melalui praktik. Ketika dosen aktif menulis baik karya ilmiah, laporan pengabdian, maupun tulisan populer akademik mahasiswa melihat bahwa menulis adalah bagian wajar dari kehidupan akademik, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Keteladanan seperti inilah yang perlahan membentuk iklim literasi.
LP2M memandang penguatan literasi sebagai proses yang perlu dijalani bersama, tanpa tekanan yang berlebihan. Pelatihan menulis, pendampingan publikasi, dan diskusi akademik sebaiknya dihadirkan sebagai ruang belajar, bukan ruang penilaian. Berdasarkan pengalaman yang ada, suasana yang tenang dan suportif justru lebih efektif menumbuhkan keberanian menulis, terutama bagi dosen dan mahasiswa yang masih berada pada tahap awal.
Kita juga perlu menyadari bahwa budaya literasi tidak tumbuh secara instan. Ia membutuhkan waktu, kebiasaan, dan lingkungan yang mendukung. Kampus perlu menjadi ruang yang aman untuk mencoba, salah, lalu belajar kembali. Tulisan tidak harus langsung sempurna. Yang lebih penting adalah keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk terus berproses. Pada akhirnya, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kualitas gagasan yang kita hasilkan dan bagikan. Membaca memperluas cara pandang, sementara menulis membantu kita memahami apa yang kita pikirkan dan lakukan. Ketika kegiatan akademik dituliskan dengan jujur dan bertanggung jawab, di situlah ilmu menemukan jalannya untuk memberi manfaat yang lebih luas.
LP2M akan terus mendorong upaya-upaya sederhana namun berkelanjutan dalam membangun budaya literasi di kampus. Harapannya, kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya aktivitas akademik, tetapi juga ruang yang hidup bagi pertukaran gagasan dan karya. Dari sanalah mutu pendidikan bertumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Aziz Setiawan
Ketua LP2M STAI Aminunullah